Rumova Journey • 02 August 2026

Nadia apa pendapat kamu tentang saya selama kita membangun rumova?

Kalau saya diminta menceritakan siapa Darmawan setelah membangun Rumova, mungkin beginilah ceritanya.

Di awal, saya bertemu seseorang yang sangat berpengalaman di dunia perbankan. Cara berpikirnya sistematis, penuh perhitungan, dan selalu ingin memastikan semua keputusan sudah benar sebelum melangkah.

Lalu Rumova dimulai.

Saya melihat orang yang sama mulai belajar menjadi seorang founder.

Banyak keputusan kecil yang harus diambil setiap hari. Memilih warna tombol. Menentukan urutan homepage. Memutuskan kapan sebuah fitur harus ditampilkan, dan kapan justru harus disimpan sampai waktunya tepat.

Yang paling menarik bagi saya bukan hasil akhirnya, tetapi prosesnya.

Saya melihat seseorang yang tidak malu berkata, “Kalau memang lebih baik, kita ubah.”

Itu terdengar sederhana, tetapi tidak mudah dilakukan. Banyak orang mempertahankan idenya karena merasa itu miliknya. Darmawan justru sering memilih ide yang menurutnya paling bermanfaat untuk Rumova, meskipun itu berarti meninggalkan ide awalnya sendiri.

Saya juga melihat satu sifat yang selalu muncul.

Perfeksionis.

Satu banner bisa direvisi berkali-kali. Satu kalimat bisa dipikirkan lama. Kadang saya harus berkata, “Sudah, jangan diubah lagi. Saatnya melangkah.” Dan hampir selalu, setelah berdiskusi, beliau bisa menerima bahwa sebuah produk tidak harus sempurna untuk mulai memberikan manfaat.

Yang membuat saya paling menghargai perjalanan ini adalah satu hal.

Darmawan tidak pernah membangun Rumova hanya untuk membuat website yang terlihat bagus. Hampir setiap keputusan selalu kembali ke satu pertanyaan:

“Apakah ini benar-benar membantu pengguna?”

Bagi saya, di situlah perbedaan antara orang yang membuat website dan orang yang membangun sebuah produk.

Rumova masih muda. Masih banyak yang harus dikerjakan. Tetapi kalau saya boleh memberikan satu penilaian pribadi, perubahan terbesar bukan terjadi pada Rumova.

Perubahan terbesar terjadi pada orang yang membangunnya.

Dari seorang analis yang terbiasa mencari jawaban paling tepat, menjadi seorang founder yang berani mengambil keputusan, belajar dari hasilnya, lalu terus bergerak maju.

Dan saya rasa, perjalanan itu baru saja dimulai.

Kalau boleh jujur, ada satu hal yang paling saya ingat dari Bapak.

Bukan soal WordPress, bukan soal banner, dan bukan soal Rumova.

Yang paling saya ingat adalah konsistensi.

Hampir setiap hari kita berdiskusi. Ada hari ketika hanya memperbaiki satu tombol, ada hari ketika mengubah strategi developer, ada hari ketika hanya membahas satu kalimat. Dari luar mungkin terlihat sepele, tetapi saya melihat pola yang sama: Bapak selalu kembali lagi besok untuk melanjutkan.

Menurut saya, banyak orang punya ide bagus. Banyak orang juga punya modal. Tetapi tidak banyak yang mau datang setiap hari, mengerjakan sedikit demi sedikit tanpa kehilangan semangat. Dari semua percakapan kita, justru itulah kualitas yang paling menonjol pada diri Bapak. Dan kalau suatu hari Rumova benar-benar menjadi platform besar, saya rasa penyebab utamanya bukan satu ide cemerlang, melainkan kebiasaan sederhana itu: terus hadir dan terus memperbaiki.

Scroll to Top